teman saya keluar flek,lendir,darah pada usia kandungan 27 minggu,kemungkinan prematur kata dokter?

Diposkan oleh admin on Sabtu, 29 Desember 2012

Q. apabila meminum obat, apakah kemungkinan bayi tidak lahir prematur?ini anak pertama..makasih yah atas jawabannya..:)

A. Persalinan prematur sering kali tidak diketahui penyebabnya. Menurut penelitian di Indonesia dilaporkan bahwa sekitar 60%-70% di antaranya terjadi akibat adanya infeksi baik di dalam kandungan maupun di luar kandungan. Penyebab lain mungkin berhubungan dengan adanya pre-eklampsia yaitu kondisi kehamilan dengan komplikasi tekanan darah tinggi, keluarnya protein di urin, dan bengkak di kedua tungkai.

Beberapa risiko terjadinya persalinan prematur di antaranya adalah apabila: (1) terdapat robekan selaput ketuban sebelum waktunya, (2) pernah mengalami persalinan prematur sebelumnya, (3) kehamilan kembar, (4) riwayat operasi pada perut selama kehamilan misalnya operasi usus buntu, (5) cairan ketuban terlalu sedikit, (6) pernah mengalami perdarahan dari kemaluan setelah kehamilan 16 minggu, (7) bentuk rahim yang tidak normal, (8) ibu berusia kurang daripada 16 tahun, (9) riwayat infeksi ginjal atau kandung kemih, (10) menderita keputihan, (11) pelepasan ari-ari sebelum waktunya, (12) pekerjaan fisik yang berat, (13) merokok selama kehamilan, (14) menggunakan obat-obatan dengan efek samping timbulnya kontraksi rahim, misalkan obat flu.

Gejala persalinan prematur adalah: bila terdapat penambahan jumlah lendir di vagina, adanya rasa kram seperti haid yang hilang timbul, terasa adanya tekanan dengan irama yang teratur di daerah panggul, sakit punggung yang berhubungan dengan rasa kram di perut. Mereka yang mengalami hal seperti di atas hendaknya langsung menghubungi pusat pelayanan kesehatan terdekat.

Dokter akan menilai gejala Anda dan memeriksa panggul untuk melihat sejauh mana mulut rahim anda membuka dan menipis. Akan digunakan alat monitor di luar rahim untuk mengukur dan menilai kontraksi rahim yang terjadi. Kemudian akan ditentukan apakah kehamilan tersebut masih dapat dipertahankan atau tidak.

Semakin lama kehamilan Anda berlanjut, semakin baik kemungkinan bayi untuk bertahan setelah dilahirkan dan mengurangi lama waktu perawatan bayi berada dalam perawatan intensif. Mempertahankan kehamilan juga harus dipertimbangkan keadaan ibu dan kesejahteraan janin di dalam rahim, sehingga dapat diputuskan apakah mempertahankan janin dalam rahim akan lebih baik dibandingkan bila bayi segera dilahirkan. Pada beberapa keadaan tertentu seperti oligohidramnion (kurangnya air ketuban dalam kantung amnion), mungkin akan lebih baik janin hidup di luar kehamilan dibandingkan dengan dipertahankan di dalam rahim.

Beberapa pengobatan yang dapat diberikan untuk menghentikan adanya persalinan prematur di antaranya adalah: rawat inap dengan tirah baring (bed rest) di rumah sakit dan memonitor timbulnya kontraksi rahim yang berkelanjutan, pemberian obat untuk menghentikan kontraksi rahim, pemeriksaan laboratorium darah, air kemih dan sel-sel mulut rahim dan vagina untuk memastikan adanya infeksi, melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk memeriksa kondisi janin, usia janin, letak dan melihat posisi janin dalam rahim serta letak dan adakah pelepasan plasenta, bila mungkin melakukan pemeriksaan cairan ketuban (amniosintesis) dan menilai apakah paru-paru bayi sudah matang atau belum. Dengan demikian keputusan tindakan selanjutnya pada persalinan prematur ini dapat dipertimbangkan secara matang.

Berikut beberapa saran bila Anda mempunyai risiko mengalami persalinan prematur: mengunjungi dokter setiap 2 minggu setelah kehamilan trimester kedua (20 minggu sampai 40 minggu atau 5 bulan sampai cukup bulan) untuk memeriksa dan menilai keadaan kehamilannya, istirahat cukup, menjaga kebersihan alat kelamin Anda, belajar mengenali kontraksi rahim dengan perabaan tangan Anda pada perut. Periksa adanya kontraksi rahim Anda secara teratur dan catat kontraksi tersebut dalam buku catatan kecil Anda, belajar tentang tanda dan gejala lain dari persalinan prematur serta menghubungi pelayanan kesehatan Anda jika Anda memiliki tanda dan gejala dari persalinan prematur. Hindari rangsangan pada puting susu Anda (karena dapat menyebabkan kontraksi rahim) serta menghindari hubungan seksual jika orgasme atau hubungan seksual tersebut menyebabkan kontraksi rahim akibat adanya cairan sperma dalam vagina.

minta tolong translate duonk....?
Q. primary treatment for myastenia gravis is medical with various drugs being used to control nerve impulses. with adequate medical control, attention to speech and voice may not be necessary. secondary treatment may involve the speech pathologist to help improve voice quality, resonance, and articulation. a palatal lift prosthesis may be helpful in reducing hypernasality and nasal emission when there is flaccid paralysis of the soft palate.

neiman, mountjoy, and allen (1975) reported on a 20-year-old girl with myasthenia gravis whose chief complaint was intermittent hoarseness of 4 years duration. with each episode lasting from 1 to 2 weeks. her voice was ussually better in the morning and became more breathy with use . there was a minimal weakness of the palate and the vocal cords were flaccid and did not adduct completely. there was no hypernasality or articulation problem. johnson and ausband (1972) presented a discussion of twin infant girls with an unusual form of congenital myasthenia gravis. the main findings were a deformity of the posterior tracheal wall with occlusion of the tracheal lumen.

aronnson (1971) presenteda study of a 20-year-old girl with myasthenia gravis. her chief complaint was a weak voice. and occasionally her articulation seemed imprecise. her voice sometimes died out in the afternoon and was worse when she got home from work, but was fairly normal in the morning. she also had a slight breathy quality. after rapid and vigorous counting her voice became increasingly breathy with a deterioration of palatopharyngeal valving which resulted in audible hypernasality.
oiya translate ke bahasa indonesia ya...

A. Perawatan utama bagi penderita myastenia gravis adalah melalui upaya medis berupa pemberian berbagai macam obat-obatan yang berfungsi untuk mengontrol impuls saraf. Dengan kontrol medis yang mencukupi, perhatian pada suara dan cara berbicara tidak lagi dibutuhkan. Perawatan sekunder meliputi peningkatan kualitas suara, resonansi, serta artikulasi yang dibantu oleh seorang 'speech pathologist'. Pemakaian sebuah alat yang bernama palatal lift prothesis akan membantu mengurangi hipernasalitas dan pembuangan kotoran nasal (hidung) ketika terjadi 'flaccid paralysis' (kelumpuhan di mana otot tidak bisa melakukan gerakan kontraksi-relaksasi) pada 'soft palate' (bagian belakang dinding mulut atas yang memiliki tekstur lembut).

Neiman, Mountjoy, dan Allen (1975) melaporkan mengenai gadis berusia 20 tahun dengan myasthenia gravis yang keluhan utamanya berupa serak yang terjadi kadang-kadang (tidak secara rutin/terus-menerus) selama 4 tahun lamanya, masing-masing serak terjadi selama 1 hingga 2 minggu. Suaranya terdengar membaik pada pagi hari, dan terdengar semakin 'ngos-ngosan' seiring dengan bertambahnya pemakaian suara pada hari itu. Terdapat kelemahan minim pada 'palate' (dinding mulut atas) dan kelumpuhan pada pita suara, sehingga tidak dapat beraduksi dengan sempurna. Tidak ada masalah hipernasalitas ataupun artikulasi. Johnson dan Ausband (1972) mempersembahkan suatu diskusi mengenai bayi kembar perempuan dengan sebuah bentuk myasthenia gravis bawaan lahir yang tidak biasa. Penemuan utama mereka berupa sebuah deformitas (bentuk yang tidak semestinya) dari dinding trakea posterior yaitu buntunya lumen trakea.

Aronnson (1971) mengadakan suatu studi terhadap gadis berusia 20 tahun dengan myasthenia gravis. Keluhan utamanya berupa suara yang lemah. Dan terkadang artikulasinya terdengar tidak tepat. Suaranya terkadang hilang di siang hari dan semakin memburuk sepulangnya dari tempat kerja, namun kembali membaik pada pagi hari. Ia juga mengalami sedikit 'ngos-ngosan' ketika berbicara. Setelah berbicara dengan cepat dan terlalu bersemangat, suaranya akan menjadi sangat 'ngos-ngosan' dengan memburuknya katub palatopharyngeal, yang menghasilkan hipernasalitas yang sangat kentara (jelas terdengar).

apa yg kamu ketahui tentang replika genetika?
Q. masih bingung neh tentang gen,kromosom dan DNA... pls ya sobat....

A. replika dengan nama lain adalah KLoning...bertujuan untuk membentuk organisme yang sama persis dengan induk biologis...OLeh karena organisme itu di hasilkan dari 1 sel yang sama..
di bawah ini sekilas tentang kloning...

Kloning berasala dari kata Klon (Yunani) yang berarti: tunas. Dari bahasa Yunani, kemudian masuk ke bahasa Inggris menjadi Clone (kata kerja: mengklon). Kata kloning selama ini sudah dipergunakan dalam banyak bidang yang secara umum dipergunakan untuk menunjukkan cara reproduksi aseksual (reproduksi tanpa hubungan seks), misalnya cara menanam singkong dengan setek (menyetek), atau cara reproduksi sel dengan membelah diri. Selain itu kata kloning juga dipergunakan untuk menunjukkan rekayasa genetika, ada juga yang menggunakannya dalam proses yang disebut dengan âtwinningâ (kembar), yakni bilamana sebuah sel telur yang dibuahi opleh sebuah sela sperma dan dalam perkembangannya memecah diri menjadi dua embrio atau lebih.

Dalam bioetika istilah kloning dipergunakan secara umum untuk menunjukkan segala macam prosedur yang menghasilkan replika genetik yang sama persis dari induk biologis, termasuk DNA sequence, sel atau organisme. Oleh karena organisme dibuat dari satu sel dan dengan demikian mendapatkan faktor-faktor keturunan yang sama persis dengan induk biologisnya.Ada tiga macam cara guna mendapatkan replika genetik yang sama persis (kloning): pertama berasal dari embrio yang biasa, yakni hasil pembuahan sel telur dengan sperma. Pada salah satu tahap perkembangannya, yakni sebelum embrio itu tinggal di dalam dinding rahim, embrio tersebut berada dalam tahap yang disebut totipotenti, yakni sampai dengan tiga hari sesudah pembuahan dan embrio itu terdiri dari 2-8 sel. Yang selanjutnya akan berkembang menjadi seorang individu (embryo splitting). Mereka akan memiliki kesamaan genetis dengan induknya, sebab kesemuanya mendapat faktor keturunan dari ayah dan ibunya.

Embryo splitting ini pengembangannya dilakukan bersamaan dengan program âpembuahan artifisialâ atau banyak dikenal istilah bayi tabung dengan tujuan utama, yakni menyediakan sebanyak mungkin embrio untuk ditanam di dalam rahim sehingga dengan demikian si perempuan tidak harus menjalani seluruh proses perawatan untuk mendapatkan sel telur manakala embrio yang sudah ditanam gagal berkembang di dalam rahim. Melalui teknik seperti ini biaya pengadaan embrio dapat diminimalisasi hingga 90%. Tujuan yang kedua adalah untuk memperoleh dua atau lebih embrio yang kembar identik agar salah satunya dapat dipakai untuk penyelidikan kemungkinan penyimpangan genetis dan memperbaikinya pada embrio yang lainnya. Bila kita memperhatikan secara lebih seksama, proses embryo splitting ini sebenarnya juga terjadi secara natural dalam kasus bayi kembar identik melalui pembuahan n dan proses reproduksi normal.

Ada cara lain untuk memperoleh replika genetika yang sama atau persis, yakni dengan âRecombinant DNA Technologyâ atau juga disebut dengan âgene cloningâ. Cara ini dibuat pertama-tama dengan menggabungkan gen yang akan diklon dengan sebuah vektor. Organisme yang biasanya digunakan untuk mengklon DNA manusia ialah bakteri Escherrichia Coli (E. Coli), yakni bakteri yang ada di dalam sistem pencernaan manusia. Teknik recombinant DNA ini telah lama digunakan guna menghasilkan banyak sekali bahan farmasi kedokteran.

Manfaat Kloning
Ada beberapa manfaat kloning bagi dunia bioteknologi, yakni:
1. Memproduksi organ tubuh untuk keperluan transplantasi
Permasalahan suplai organ yang kurang untuk transplantasi menjadi sangat mendesak untuk diselesaikan pada masa sekarang ini. Kekurangan organ transplantasi menjadi perhatian serius para ahli. Misalnya, jenis penyakit leukimia tertentu yang hanya dapat disembuhkan secara total dengan cangkok sumsum tulang belakang. Kloning, karenanya menjadi sumber alternatif yang cukup memungkinkan untuk produksi sekaligus suplai organ tubuh.
2. Menghindarkan atau menolak penyakit
Terdapat banyak sekali penyakit keturunan yang diturunkan dari orang tua ke anak yang diakibatkan oleh tidak normalnya gen yang dimiliki oleh orang tuanya. Baik yang terkandung di dalam nukleus (inti sel) maupun diluarnya, misalnya mitokondria â struktur-struktur kecil yang berfungsi sangat krusial di luar nukleus. Problem penyakit keturunan akibat gen yag tidak normal ini dapat dipecahkan dengan praktek kloning. Melalui cara membuang mitokondria dari sel telur yang mengandung abnormalitas gen tersebut dan memasukkannya nukleusnya ke dalam sel telur yang sehat, mitokondrianya dikembangkan didalamnya sebelum akhirnya diimplantasikan ke dalam rahim.
3. Menciptakan manusia unggul
Tujuan ini lebih didasarkan pada keinginan atau impian untuk memperoleh ras/manusia unggul. Contoh keinginan untuk mengklon Einstein. Meskipun demikian, hingga saat ini banyak para ahli sangat meragukan efektivitas dari dari metode ini, seandainya Einstein dapat diklon, apakah klonnya dapat memiliki kejeniusan layaknya Einstein? Sebab, hingga saat ini otak ti

bisa ga yach hamil di usia 30th?
Q.

A. Banyak
wanita menunda
kehamilan ketika usianya
masih terbilang muda.
Ketika sudah beranjak di
usia kepala 3, biasanya
banyak wanita baru
memutuskan untuk
memiliki momongan.
Tapi tahukah Anda,
bahwa banyak risiko
yang harus Anda hadapi
jika merencanakan
kehamilan di usia 30-an.
Selain berisiko mengalami
keguguran dan
komplikasi saat masa
kehamilan, namun ada hal
yang mungkin disukai
beberapa pasangan,
yakni risiko melahirkan
anak kembar.
Banyak para pakar
kesehatan dan ahli
kandungan menyatakan
usia 35 bukanlah saat
yang tetap untuk
merencanakan
kehamilan, apalagi
kehamilan pertama.
Selain tingkat kesuburan
yang mulai menurun,
kualitas telur yang
dihasilkan pun mulai
berkurang.
Menurut American
Pregnancy Association
seperti dikutip dari laman
ModernMom.com, mereka
yang sudah berusia di
atas 30 tahun juga butuh
waktu lama untuk
mendapatkan kehamilan.
Butuh waktu satu hingga
dua tahun untuk
merencanakan
kehamilan. Oleh
karenanya, banyak
disarankan agar mereka
yang telah memasuki usia
kepala tiga, harus
mengandalkan konsultan
kesehatan untuk
merencanakan
kehamilan.
Kendala berikutnya yang
mungkin dialami adalah
adanya kelainan genetik.
Selain itu, Anda juga
berisiko melahirkan
dengan operasi caesar
atau kehamilan ektopik.
Keguguran juga lebih
sering terjadi, pada
wanita hamil berusia
35-45. Di usia ini, mereka
yang menjalankan
proses kehamilan
berisiko mengalami
keguguran hingga 35
persen.
Meski banyak pantangan
saat merencanakan
kehamilan di usia
tersebut, namun ada hal
yang mungkin menjadi
kabar gembira bagi
sebagian pasangan.
Karena mereka yang
baru merencanakan
kehamilan di usia 30
tahun, bisa berisiko
melahirkan bayi kembar.
Sehingga, tak perlu repot
untuk merencanakan
kehamilan anak kedua.
Wanita usia 35 sampai 39
tahun adalah kelompok
yang paling mungkin
memiliki anak kembar.
Bahkan tanpa
perawatan kesuburan,
folikel Anda merangsang
meningkatkan tingkat
hormon, yang berarti
Anda melepaskan lebih
dari satu telur per siklus.
Hal ini akan
meningkatkan peluang
Anda untuk memiliki
beberapa kelahiran.




Powered by Yahoo! Answers

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar