apa yg kamu ketahui tentang replika genetika?

Diposkan oleh admin on Sabtu, 29 Desember 2012

Q. masih bingung neh tentang gen,kromosom dan DNA... pls ya sobat....

A. replika dengan nama lain adalah KLoning...bertujuan untuk membentuk organisme yang sama persis dengan induk biologis...OLeh karena organisme itu di hasilkan dari 1 sel yang sama..
di bawah ini sekilas tentang kloning...

Kloning berasala dari kata Klon (Yunani) yang berarti: tunas. Dari bahasa Yunani, kemudian masuk ke bahasa Inggris menjadi Clone (kata kerja: mengklon). Kata kloning selama ini sudah dipergunakan dalam banyak bidang yang secara umum dipergunakan untuk menunjukkan cara reproduksi aseksual (reproduksi tanpa hubungan seks), misalnya cara menanam singkong dengan setek (menyetek), atau cara reproduksi sel dengan membelah diri. Selain itu kata kloning juga dipergunakan untuk menunjukkan rekayasa genetika, ada juga yang menggunakannya dalam proses yang disebut dengan âtwinningâ (kembar), yakni bilamana sebuah sel telur yang dibuahi opleh sebuah sela sperma dan dalam perkembangannya memecah diri menjadi dua embrio atau lebih.

Dalam bioetika istilah kloning dipergunakan secara umum untuk menunjukkan segala macam prosedur yang menghasilkan replika genetik yang sama persis dari induk biologis, termasuk DNA sequence, sel atau organisme. Oleh karena organisme dibuat dari satu sel dan dengan demikian mendapatkan faktor-faktor keturunan yang sama persis dengan induk biologisnya.Ada tiga macam cara guna mendapatkan replika genetik yang sama persis (kloning): pertama berasal dari embrio yang biasa, yakni hasil pembuahan sel telur dengan sperma. Pada salah satu tahap perkembangannya, yakni sebelum embrio itu tinggal di dalam dinding rahim, embrio tersebut berada dalam tahap yang disebut totipotenti, yakni sampai dengan tiga hari sesudah pembuahan dan embrio itu terdiri dari 2-8 sel. Yang selanjutnya akan berkembang menjadi seorang individu (embryo splitting). Mereka akan memiliki kesamaan genetis dengan induknya, sebab kesemuanya mendapat faktor keturunan dari ayah dan ibunya.

Embryo splitting ini pengembangannya dilakukan bersamaan dengan program âpembuahan artifisialâ atau banyak dikenal istilah bayi tabung dengan tujuan utama, yakni menyediakan sebanyak mungkin embrio untuk ditanam di dalam rahim sehingga dengan demikian si perempuan tidak harus menjalani seluruh proses perawatan untuk mendapatkan sel telur manakala embrio yang sudah ditanam gagal berkembang di dalam rahim. Melalui teknik seperti ini biaya pengadaan embrio dapat diminimalisasi hingga 90%. Tujuan yang kedua adalah untuk memperoleh dua atau lebih embrio yang kembar identik agar salah satunya dapat dipakai untuk penyelidikan kemungkinan penyimpangan genetis dan memperbaikinya pada embrio yang lainnya. Bila kita memperhatikan secara lebih seksama, proses embryo splitting ini sebenarnya juga terjadi secara natural dalam kasus bayi kembar identik melalui pembuahan n dan proses reproduksi normal.

Ada cara lain untuk memperoleh replika genetika yang sama atau persis, yakni dengan âRecombinant DNA Technologyâ atau juga disebut dengan âgene cloningâ. Cara ini dibuat pertama-tama dengan menggabungkan gen yang akan diklon dengan sebuah vektor. Organisme yang biasanya digunakan untuk mengklon DNA manusia ialah bakteri Escherrichia Coli (E. Coli), yakni bakteri yang ada di dalam sistem pencernaan manusia. Teknik recombinant DNA ini telah lama digunakan guna menghasilkan banyak sekali bahan farmasi kedokteran.

Manfaat Kloning
Ada beberapa manfaat kloning bagi dunia bioteknologi, yakni:
1. Memproduksi organ tubuh untuk keperluan transplantasi
Permasalahan suplai organ yang kurang untuk transplantasi menjadi sangat mendesak untuk diselesaikan pada masa sekarang ini. Kekurangan organ transplantasi menjadi perhatian serius para ahli. Misalnya, jenis penyakit leukimia tertentu yang hanya dapat disembuhkan secara total dengan cangkok sumsum tulang belakang. Kloning, karenanya menjadi sumber alternatif yang cukup memungkinkan untuk produksi sekaligus suplai organ tubuh.
2. Menghindarkan atau menolak penyakit
Terdapat banyak sekali penyakit keturunan yang diturunkan dari orang tua ke anak yang diakibatkan oleh tidak normalnya gen yang dimiliki oleh orang tuanya. Baik yang terkandung di dalam nukleus (inti sel) maupun diluarnya, misalnya mitokondria â struktur-struktur kecil yang berfungsi sangat krusial di luar nukleus. Problem penyakit keturunan akibat gen yag tidak normal ini dapat dipecahkan dengan praktek kloning. Melalui cara membuang mitokondria dari sel telur yang mengandung abnormalitas gen tersebut dan memasukkannya nukleusnya ke dalam sel telur yang sehat, mitokondrianya dikembangkan didalamnya sebelum akhirnya diimplantasikan ke dalam rahim.
3. Menciptakan manusia unggul
Tujuan ini lebih didasarkan pada keinginan atau impian untuk memperoleh ras/manusia unggul. Contoh keinginan untuk mengklon Einstein. Meskipun demikian, hingga saat ini banyak para ahli sangat meragukan efektivitas dari dari metode ini, seandainya Einstein dapat diklon, apakah klonnya dapat memiliki kejeniusan layaknya Einstein? Sebab, hingga saat ini otak ti

bisa ga yach hamil di usia 30th?
Q.

A. Banyak
wanita menunda
kehamilan ketika usianya
masih terbilang muda.
Ketika sudah beranjak di
usia kepala 3, biasanya
banyak wanita baru
memutuskan untuk
memiliki momongan.
Tapi tahukah Anda,
bahwa banyak risiko
yang harus Anda hadapi
jika merencanakan
kehamilan di usia 30-an.
Selain berisiko mengalami
keguguran dan
komplikasi saat masa
kehamilan, namun ada hal
yang mungkin disukai
beberapa pasangan,
yakni risiko melahirkan
anak kembar.
Banyak para pakar
kesehatan dan ahli
kandungan menyatakan
usia 35 bukanlah saat
yang tetap untuk
merencanakan
kehamilan, apalagi
kehamilan pertama.
Selain tingkat kesuburan
yang mulai menurun,
kualitas telur yang
dihasilkan pun mulai
berkurang.
Menurut American
Pregnancy Association
seperti dikutip dari laman
ModernMom.com, mereka
yang sudah berusia di
atas 30 tahun juga butuh
waktu lama untuk
mendapatkan kehamilan.
Butuh waktu satu hingga
dua tahun untuk
merencanakan
kehamilan. Oleh
karenanya, banyak
disarankan agar mereka
yang telah memasuki usia
kepala tiga, harus
mengandalkan konsultan
kesehatan untuk
merencanakan
kehamilan.
Kendala berikutnya yang
mungkin dialami adalah
adanya kelainan genetik.
Selain itu, Anda juga
berisiko melahirkan
dengan operasi caesar
atau kehamilan ektopik.
Keguguran juga lebih
sering terjadi, pada
wanita hamil berusia
35-45. Di usia ini, mereka
yang menjalankan
proses kehamilan
berisiko mengalami
keguguran hingga 35
persen.
Meski banyak pantangan
saat merencanakan
kehamilan di usia
tersebut, namun ada hal
yang mungkin menjadi
kabar gembira bagi
sebagian pasangan.
Karena mereka yang
baru merencanakan
kehamilan di usia 30
tahun, bisa berisiko
melahirkan bayi kembar.
Sehingga, tak perlu repot
untuk merencanakan
kehamilan anak kedua.
Wanita usia 35 sampai 39
tahun adalah kelompok
yang paling mungkin
memiliki anak kembar.
Bahkan tanpa
perawatan kesuburan,
folikel Anda merangsang
meningkatkan tingkat
hormon, yang berarti
Anda melepaskan lebih
dari satu telur per siklus.
Hal ini akan
meningkatkan peluang
Anda untuk memiliki
beberapa kelahiran.




Powered by Yahoo! Answers

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar